Tidak Sebaik Musa, Tidak Sejahat Fir’aun

Posted: February 23, 2013 in Uncategorized

15 Februari 2013 Diposkan oleh Jundullah Abdurrahman Askarillah di 18.59

“Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, Dia mencintai kelembutan dalam segala urusan”
-HR. Bukhari-

Sejenak, mari kita kembali ke zaman dahulu kala, kembali pada lembaran sejarah dunia yang dinodai oleh kekafiran seorang Fir’aun. Ya, diktator nomor 1 sepanjang sejarah manusia ini merupakan penguasa sebuah peradaban yang paling maju di dunia saat itu. Harta, tahta, dan dunia seakan keseluruhan adalah miliknya. Tapi memang dasar Fir’aun, ia yang tidak akan pernah merasa puas, Ia yang tak merasa cukup menjadi manusia saja, ia ingin menjadi lebih daripada itu, ia memiliki obsesi untuk melampaui batas-batas kemanusiaan. Ya, ia ingin menjadi TUHAN.

“Kemudian (Fir’aun) berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi”” (QS. An Naazi’at: 24)

Dan dengan segala kekuasaan yang ia miliki, ia daulat dirinya sendiri sebagai Rabb semesta alam. Tangan besi Fir’aun yang telah merampas kehormatan ribuan atau mungkin jutaan manusia telah memaksa mereka untuk tunduk patuh secara mutlak kepada titahnya. Entah berapa lama Fir’aun telah merasakan “sensasi” menjadi Tuhan hingga akhirnya Allah utus ke tengah-tengah negeri Fir’aun itu Nabi yang mulia, Musa dan saudaranya Harun ‘alaihimussalam.

Dan sekarang, perhatikanlah bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk menghadap Fir’aun demi mematahkan keangkuhan dan kekafirannya dan menggiring manusia kepada kebenaran,

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut” (QS. Thaahaa: 43-44)

Lihatlah bagaimana Allah ‘azza wa jalla memerintahkan nabi-Nya untuk berdakwah kepada seorang Fir’aun. Bayangkan, seorang Hitler yang hanya membuat Eropa berkecamuk dalam perang besar dan memakan korban jutaan jiwa sudah digambarkan sebagai orang yang paling bengis di dunia, seorang Stalin yang hanya bertanggung jawab atas kematian massal jutaan rakyatnya sudah dikategorikan sebagai diktator kejam berdarah dingin. Bagaimana dengan Fir’aun, yang merupakan penguasa terbesar di zamannya, yang telah memaksa manusia sujud kepadanya, yang tega membunuh bayi yang baru keluar dari perut ibunya? Masya Allah…super banget deh!

Tetapi lihat, apakah Allah kemudian menyuruh Nabi Musa dan Harun untuk langsung melaknatnya? Tidak. Allah menyuruh mereka untuk berdakwah, untuk menyampaikan kebenaran di hadapan Fir’aun.

Dan bagaimana mereka harus menyampaikan kebenaran itu? Apakah dengan pemberontakkan? Apakah dengan sumpah serapah? Apakah dengan cacian dan makian? Sungguh, tidaklah mereka diperintahkan berdakwah kecuali dengan cara yang lemah lembut.

Refleksi Diri: Bersikap Lemah Lembutlah dalam Berdakwah

Sungguh bagus apa yang telah dikatakan oleh Khalifah yang masyhur, Harun Al Rasyid rahimahullah, untuk menggambarkan bagaimana seharusnya kita bisa menimbang siapa diri kita dan siapa orang lain itu sebenarnya.

Suatu hari ada seseorang yang menemui Khalifah Harun Al Rasyid kemudian berkata, “Wahai Harun, aku akan berbicara kepadamu dengan keras, dan aku ingin menasihatimu!” Kemudian Harun Al Rasyid menjawab,

“Wahai Fulan, aku tidak mau mendengar perkataanmu itu. Sebab aku tidaklah lebih jahat dari Fir’aun dan engkau pun tidak lebih baik dari Musa ‘alaihissalam. Padahal Allah ta’ala telah memerintahkan Musa untuk berkata pada Fir’aun dengan perkataan yang lembut”[1]

Inilah yang seharusnya dipikirkan oleh orang-orang yang berdakwah tetapi sering melampaui batas. Mereka berdakwah kepada saudara-saudara mereka yang sesama muslim seakan-akan yang didakwahi itu jauh lebih buruk daripada orang kafir. Inikah yang disebut dakwah Islamiyah? Yang justru pena dan lidahnya jauh lebih tajam untuk saudara-saudara mereka sesama kaum muslimin? Padahal si pendakwah tadi belum tentu ia lebih baik dari yang didakwahkan, padahal si pendakwah tadi bukanlah yang dijamin selamat dari kesalahan. Subhanallah.

Sifat Lemah Lembut Kunci Keberhasilan Dakwah

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (QS. Ali Imran: 159)

Sebagai orang Indonesia, mari kita lihat sejarah bangsa kita sendiri. Islam masuk ke Indonesia tidak dengan perantara pedang, tidak datang dengan para penjajah (sebagaimana agama Kristen yang masuk bersama para penjajah), tetapi datang dengan membawa kedamaian dan keadilan. Dan sekarang kita lihat di zaman kita. Ketika Indonesia menjadi negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, tapi justru memiliki segudang aliran sesat. Mulai dari Ahmadiyah, para nabi palsu asli Indonesia, hingga agama Syi’ah.

Sekarang pertanyaannya, mengapa Islam begitu mudah masuk ke Indonesia? Salah satu alasan paling penting adalah karena kelemahlembutan dan akhlak para pendakwahnya. Dan satu pertanyaan lagi, mengapa justru aliran yang menyimpang yang malah laris di negeri ini? Karena aliran-aliran dan ajaran agama menyimpang itu menggunakan cara yang lemah lembut dan akhlak yang baik.

Wahai saudaraku, tidakkah kita seharusnya malu? Ajaran yang bersesuaian dengan Al Qur’an dan Sunnah ini, ajaran agama yang lurus ini, justru kalah bersaing dengan ajaran sempalan karena mereka melakukannya dengan akhlak dan cara yang lemah lembut. Bukankah kita yang seharusnya memiliki kelemahlembutan tersebut? Bukankah kita yang mengaku mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ sudah seharusnya memiliki sifat lemah lembut ini?

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesama mereka” (QS. Al Fath: 29)

Contoh Terbaik

Telah datang kepada kita begitu banyak kisah-kisah dakwah para Nabi yang menggambarkan bagaimana lembutnya dakwah mereka. Dan salah satunya, mari kita simak kisah Nabi kita yang mulia, Rasulullah ﷺ,

Suatu suatu hari para sahabat sedang di masjid bersama Rasulullah ﷺ. Lalu datanglah seorang Arab badui yang kemudian berdiri untuk buang air kecil di masjid. Para sahabat menghardiknya namun Rasulullah ﷺ bersabda, “Janganlah kalian memutusnya, biarkanlah ia selesai kencing dulu”. Maka mereka membiarkan orang itu selesai kencing. Setelah selesai, orang itu dipanggil oleh Rasulullah ﷺ dan beliau bersabda, “Sesungguhnya masjid-masjid ini tidak selayaknya di dalamnya ada sesuatu dari gangguan dan kotoran, sesungguhnya masjid itu hanyalah untuk sholat dan membaca Al Qur’an”. Setelah itu Rasulullah ﷺ memerintahkan seseorang untuk mengambil seember air dan menyiram bekas kencing Arab badui tadi (HR. Bukhari no. 219)

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran. Diantaranya keharusan bersikap lemah lembut terhadap orang jahil dan mengajarinya apa yang menjadi kewajibannya tanpa bentakan jika orang itu tidak keras kepala (tidak membangkang), apalagi terhadap orang yang kita ingin jinakkan hatinya. Hadits ini menunjukkan kelemahlembutan Rasulullah ﷺ dan baiknya akhlak beliau.[2]

Sumber Penulisan:

Faidah dari kajian di Masjid Al Istiqamah Taman Yasmin Bogor, 26 Januari 2013, oleh Ustadz Syariful Mahya Lubis, Lc. hafizhahullah.

14 Contoh Hikmah dalam Berdakwah, disusun oleh Ustadz Abu Abdurrahman Abdullah Zaen, Lc. Penerbit: Pustaka Muslim. Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s