Definisi, Dalil, dan Penjelasan Mengenai Sunnah dan Bid’ah

Posted: February 23, 2013 in Uncategorized

“Berpeganglah kamu sekalian dengan sunnahku dan sunnah para khulafaurrasyidin setelahku. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia erat-erat dengan gigi gerahammu. Jauhilah perkara-perkara baru yang diada-adakan, karena setiap amalan yang diada-adakan itu bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”
-HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah-

Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarganya, para sahabatnya, serta pengikutnya yang istiqamah di atas sunnahnya.

Hadits yang disebutkan di atas merupakan hadits yang memiliki pesan makna yang sangat dalam. Ya, apalagi untuk kita, kaum muslimin di era modern ini. Ketika kita yang hidup di zaman yang ilmu merupakan barang langka di masyarakat kita, kita yang mengaku kaum muslimin ini rasanya gampang sekali terbawa arus fitnah dunia kala ini. Dan kini ketika kita menengok kembali wasiat dari pembimbing kita, Rasulullah ﷺ, di sana kita temukan wasiat untuk berpegang kepada sunnah dan menjauhi bid’ah. Namun yang menjadi masalah kita saat ini, apa itu sunnah yang harus kita pegang? Dan apa itu bid’ah yang harus kita jauhi? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, maka simaklah pembahasannya dalam artikel ini.

Definisi Sunnah

Secara bahasa, sunnah adalah metode (jalan) dan perilaku, yang baik maupun yang buruk. (Ibnu Manzhur, dalam Lisanul ‘Arab 13/225)

Sementara itu, para ulama juga telah mendefinisikan sunnah secara istilah.

Ibnu Rajab Al Hanbali berkata, “Sunnah adalah cara yang ditempuh Rasulullah ﷺ. Termasuk berpegang teguh kepada apa yang menjadi landasan beliau ﷺ dan para Khulafaurrasyidin, baik dalam keyakinan perbuatan, maupun perkataan. Inilah sunnah yang sempurna.” (Jaami’ul Ulum wal Hikam I/20)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “(Sunnah berarti) mengikuti jejak Rasulullah ﷺ secara lahir dan batin, mengikuti jalan para pendahulu yang utama dari kalangan Muhajirin dan Anshar.” (Majmuu’ Fataawa III/157)

Sehingga, bisa kita simpulkan bahwa sunnah adalah petunjuk yang menjadi pedoman Rasulullah ﷺ dan para sahabat beliau, baik dalam keilmuan, keyakinan, ucapan, maupun perbuatan. Itulah sunnah yang wajib diikuti, dipuji pelakunya, dan dicela orang yang menyelisihinya. (Syaikh Sa’id nin Ali bin Wahf Al Qahthani, Nuurussunnah wa Zhulumatul Bid’ah)

Wajibnya Mengikuti Sunnah Nabi dan Para Sahabatnya

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Apa saja yang disampaikan Rasul kepada kamu, terimalah. Dan apa saja yang dilarangnya bagi kamu, maka tinggalkanlah” (QS. Al Hasyr: 7)

“Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir, dan banyak mengingat Allah” (QS. Al Ahzab: 21)

“Katakanlah (wahai Muhammad), Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 54)

“Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah kesuksesan yang agung” (QS. At Taubah: 100)

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Barangsiapa yang menolak sunnahku maka dia bukanlah bagian dariku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali satu golongan.” Para sahabat bertanya, “Siapa golongan itu, wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Golongan yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada” (HR. Tirmidzi)

“Sungguh telah aku tinggalkan bagi kalian dua perkara . kalian tidak akan tersesat jika berpegang dengan keduanya. Yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Kalian tidak akan berpecah hingga nanti kalian sampai di telagaku” (HR. Hakim, Ad Daruquthni, dan Baihaqi)

Perkataan Para Ulama untuk Mengikuti Sunnah dan Tidak Bertaklid kepada Mereka

Imam Abu Hanifah berkata,

“Apabila saya mengemukakan suatu pendapat yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits Rasulullah ﷺ, maka tinggalkanlah perkataanku!” (Al Liqaazh hlm. 50)

“Apabila hadits itu shahih, maka itulah madzhabku” (Al Haasyiyah I/63)

“Tidak halal bagi seorang pun mengambil pendapat kami, selama ia tidak mengetahui dari mana kami mengambil pendapat tersebut” (I’lamul Muwaqqi’in II/309)

Imam Malik berkata,

“Saya ini hanya seorang manusia, bisa salah dan bisa benar, maka telitilah pendapatku. Setiap pendapatku yang sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah, maka ambillah pendapat tersebut. Dan setiap pendapatku yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah, maka tinggalkanlah pendapat itu!” (Ushuulul Ahkam VI/149)

Imam Asy Syafi’i berkata,

“Apabila kamu mendapatkan di dalam kitabku apa yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah ﷺ, maka berkatalah dengan Sunnah Rasulullah ﷺ dan tinggalkanlah apa yang aku katakan!” (I’lamul Muwaqqi’in 2/361)

“Kaum muslimin telah sepakat bahwa barang siapa yang telah terang banginya Sunnah Rasulullah ﷺ, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena untuk mengikuti perkataan seseorang” (I’lamul Muwaqqi’in 2/361)

Imam Ahmad bin Hanbal berkata,

“Jangan kalian bertaqlid kepadaku, dan jangan pula bertaqlid kepada Malik, Asy Syafi’i, Al Auza’i, dan Ats Tsauri. Tapi ambillah dari mana mereka mengambil” (I’lamul Muwaqqi’in 2/302)

“Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah ﷺ, maka ia berada pada jurang kehancuran” (Al Manaaqib, hlm. 182)

Ibnu Rajab Al Hanbali berkata,

“Wajib hukumnya bagi orang yang telah sampai kepadanya perintah Rasulullah ﷺ dan mengetahuinya, untuk menjelaskannya kepada ummat, menasihati mereka, dan menyeru mereka supaya mengikuti perintah beliau. Walaupun perintah tersebut menyelisihi pendapat tokoh pemuka dalam ummat. Sebab, perintah Rasulullah ﷺ lebih berhak untuk diutamakan dan diikuti daripada pendapat para tokoh mana pun” (Liqaazhul Himam, hlm. 93)

Keutamaan Mengikuti Sunnah

Mengikuti Sunnah Nabi Muhammad ﷺ sangatlah banyak keutamaannya. Diantaranya,

Yang pertama, selamat dari siksa api neraka.

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali satu golongan.” Para sahabat bertanya, “Siapa golongan itu, wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Golongan yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada” (HR. Tirmidzi)

Yang kedua, mencegah kesesatan.

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Sungguh telah aku tinggalkan bagi kalian dua perkara . kalian tidak akan tersesat jika berpegang dengan keduanya. Yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Kalian tidak akan berpecah hingga nanti kalian sampai di telagaku” (HR. Hakim, Ad Daruquthni, dan Baihaqi)

Yang ketiga, dimasukkan ke dalam surga Allah.

“Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. An Nisaa’: 13)

Yang keempat, menyelamatkan cobaan dan adzab Allah.

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An Nuur: 63)

Dan masih banyak lagi keutamaan lain yang bisa kita dapatkan ketika kita mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ. (Selengkapnya, silakan lihat risalah yang berjudul Fadhu Ittiba’is Sunnah, karya Syaikh Dr. Muhammad bin Umar Bazmul)

Pengertian Bid’ah

Setelah tadi kita mengenal apa itu sunnah, maka kini kita beralih pada pembahasan seputar bid’ah.
Secara bahasa, bid’ah berarti membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. (Lihat Al Mu’jam Al Wasith, 1/91)

Adapun secara istilah syar’i, maka para ulama memiliki definisi yang beragam. Diantaranya apa yang dituturkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,

“Bid’ah adalah i’tiqad (keyakinan) dan ibadah yang menyelishi Al Kitab dan As Sunnah atau ijma’ (kesepakatan) salaf.” (Majmu’ Al Fataawa, 18/346)

Selain itu, ada pula definisi yang datang dari Imam Syathibi.

“Bid’ah adalah ungkapan (untuk) jalan beragama yang baru, yang menyerupai syariat dan maksud dikerjakannya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah” (Al I’tisham, 1/23)

Dan secara ringkas, bid’ah yang dimaksud dalam hadits-hadits Nabi ﷺ mengenai bid’ah adalah sebagaimana yang dituturkan Imam Jauhari,

“Bidah adalah perkara baru dalam agama setelah (agama itu) sempurna” (Ilmu Ushulil Bida’, hlm. 24)

Seluruh Bid’ah Dalam Agama itu Sesat

Ketahuilah, bahwa seluruh bid’ah itu sesat. Namun ada saja orang-orang yang mengklaim bahwa ritual-ritual bid’ah dalam ibadah yang mereka lakukan itu mereka katakan sebagai perbuatan baik, sebagai sebuah kebaikan, atau yang sering disebut bid’ah hasanah. Padahal, telah jelas dalil dari Nabi Muhammad ﷺ,

“Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru (dalam agama), karena setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat” (HR. Ahmad, Hakim, Ibnu Majah, dll.)

Dan simaklah perkataan orang-orang yang jauh lebih paham agama setelah Rasulullah ﷺ.

Abdullah bin Umar berkata, “Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik” (Al Ibanah Al Kubra li Ibni Baththah, 1/219)

Abdullah bin Mas’ud ketika beliau melewati suatu masjid yang di dalamnya terdapat sekelompok orang yang membentuk majelis. Mereka bertakbir, bertahlil, bertasbih dengan cara yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Lalu Ibnu Mas’ud mengingkari mereka dengan mengatakan,

“Hitunglah dosa-dosa kalian. Aku adalah penjamin bahwa sedikit pun dari amalan kebaikan kalian tidak akan hilang. Celakalah kalian, wahai umat Muhammad! Begitu cepat kebinasaan kalian! Mereka sahabat nabi kalian masih ada. Pakaian beliau ﷺ juga belum rusak. Bejananya pun belum pecah. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah kalian berada dalam agama yang lebih baik dari agamanya Muhammad? Ataukah kalian ingin membuka pintu kesesatan (bid’ah)?”

Mereka menjawab, “Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.”

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid)

Bahaya Perbuatan Bid’ah

Sesungguhnya bahaya perbuatan bid’ah itu amatlah banyak kerusakannya. Dan banyaknya kerusakan dan bahaya yang muncul dari bid’ah, diantaranya adalah:

Yang pertama, amalannya tertolak

“Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim)

Sungguh merugi pelaku bid’ah. Sudah beramal banyak tapi ternyata ditolak.

“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi: 103-104)

Yang kedua, terhalangnya taubat dari pelaku bid’ah

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Sesungguhnya Allah menghalangi taubat dari setiap ahli bid’ah” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim, dikuatkan dari jalur Anas bin ‘Iyadl Al Laits Al Madani. Dishahihkan Al Albani dalam Ash Shahihah dan Shahih At Targhib wat Tarhib juz I hlm. 97)

Mengapa bisa demikian? Karena perbuatan bid’ah yang dianggap baik maka pelakunya akan sulit keluar dari bid’ah tersebut.

Sufyan Ats Tsauri berkata, “Bid’ah itu lebih disukai Iblis dibandingkan dengan maksiat biasa. Karena pelaku maksiat itu lebih mudah bertaubat. Sedangkan pelaku bid’ah itu sulit bertaubat” (Talbis Iblis, hlm. 22)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Oleh karena itu para imam seperti Sufyan Ats Tsauri dan lainnya menyatakan bahwa sesungguhnya bid’ah itu lebih dicintai iblis daripada maksiat karena pelaku bid’ah tidak diharapkan taubatnya sedangkan pelaku maksiat diharapkan taubatnya. Makna ucapan mereka bahwa pelaku bid’ah tidak diharapkan taubatnya karena seorang mubtadi’ yang menjadikan bid’ahnya sebagai Dien yang tidak disyariatkan Allah dan Rasul-Nya telah tergambar indah baginya amal jeleknya itu sehingga ia memandangnya baik. Maka ia tidak akan bertaubat selama dia memandangnya sebagai perkara yang baik. Karena awal taubat itu adalah pengetahuan bahwa perbuatannya itu jelek sehingga dia mau bertaubat. Atau perbuatannya meninggalkan kebaikan yang diperintahkan, baik perintah wajib maupun mustahab agar dia bertaubat darinya dengan melaksanakan perintah tersebut. Selama dia memandang perbuatannya itu baik padahal jelek, maka dia tidak akan bertaubat.” (Majmu’ Fatawa juz 10 hlm. 9)

Yang ketiga, terhalang dari telaga dan syafa’atnya Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui bid’ah yang mereka buat sesudahmu.’ ” (HR. Bukhari no. 7049)

Dalam riwayat lain,

“(Wahai Rabbku), mereka betul-betul pengikutku. Lalu Allah berfirman, ‘Sebenarnya engkau tidak mengetahui bahwa mereka telah mengganti ajaranmu setelahmu.” Kemudian aku (Rasulullah ﷺ) mengatakan, “Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku.” (HR. Bukhari no. 7051)

Yang keempat, menanggung dosa orang yang mengerjakan bid’ah.

Sungguh buruk orang yang mengajarkan dan mengarahkan manusia ini kepada bid’ah. Rasulullah ﷺ bersabda,

“Barangsiapa melakukan suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun.” (HR. Muslim no. 1017)

Yang kelima, mendapatkan laknat.

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Barangsiapa yang membuat bid’ah atau menolong ahli bid’ah, maka baginya laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya” (HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 1371)

Penutup

Suatu hari ketika Rasulullah ﷺ bersama para sahabatnya, beliau menggambar garis lurus di atas tanah dan menggariskan garis-garis lain di kanan dan kirinya. Kemudian beliau ﷺ menunjuk garis lurus tersebut seraya berkata, “Ini adalah jalan Allah”. Dan beliau menunjuk garis-garis yang bercabang di kanan dan di kirinya dengan mengatakan: ”Ini adalah jalan-jalan sesat, di setiap ujung jalan-jalan ini terdapat setan yang menyeru kepadanya”. Kemudian beliau membaca ayat,

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al An’am: 153)

(HR. Ibnu Abi ‘Ashim)

Demikian yang mampu kami sampaikan, semoga bermanfaat bagi kita semua.
Wa shalallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala aali hi wa shahbihi wa sallam, Akhiru da’wana anil hamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s