Foto PKL

Image  —  Posted: June 6, 2013 in Uncategorized

Ketika Ibadah Menyelisihi Sunnah

Posted: February 23, 2013 in Uncategorized

Ibadah itu tauqifiyah, maknanya ia tidak disyari’atkan sedikit pun kecuali dengan dalil dari Al Qur’an dan Sunnah. Dan apa pun yang tidak disyari’atkan dianggap bid’ah yang tertolak
-Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan-

Suatu hari di saat setelah terbit fajar, ada seorang lelaki yang shalat di hadapan Sa’id bin Musayyab rahimahullah (wafat 94 H). Lelaki itu shalat lebih banyak daripada dua rakaat dan ia memperbanyak ruku’ dan sujudnya. Sa’id bin Musayyab pun melarang hal tersebut, maka kemudian lelaki itu bertanya, “Wahai Abu Muhammad (panggilan Sa’id bin Musayyab), apakah Allah akan menyiksaku karena shalat?”
Kemudian Sa’id bin Musayyab menjawabnya, “Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyelisihi sunnah” (Sanadnya Shahih: Diriwayatkan Ad Darimi, ‘Abdurrazzaq, dan Baihaqi. Lihat Irwaul Ghalil, Syaikh Al Albani)

Inilah jawaban seorang yang dalam pemahamannya atas urusan agama. Inilah jawaban indah seorang ulama mengenai berbagai macam bentuk ibadah yang diada-adakan oleh tangan manusia-manusia jahil dan kurang pemahamannya atas agama Islam yang lurus ini. sebagian orang menganggap bahwa jika seseorang melarang orang lain untuk melakukan sebuah ibadah tertentu (yang tidak ada asalnya), maka orang tersebut membenci ibadah. Padahal bukanlah ibadah yang dibenci, namun caranya yang menyelisihi sunnah itulah yang dibenci. Seperti kisah di atas, bukan ibadah shalatnya yang dibenci, tapi penyimpangannya yang seharusnya diluruskan agar tidak menodai ibadah tersebut.
Kaidah Penting Dalam Ibadah
“Hukum asal dari ibadah adalah batal (haram), hingga tegak dalil (argument) yang memerintahkannya” (I’lamul Muwaqqi’in, Ibnul Qayyim Al Jauziyah)
“Hukum asal ibadah adalah tauqif dan ittiba’ ( bersumber pada ketetapan Allah dan mengikuti Rasul)” ( Al Bayan, Abdul Hamid Hakim)
Dalilnya adalah,
Yang pertama, firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam kitab-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurat:1)
Syaikh As Sa’di berkata, “…Yaitu dengan menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Dan hendaknya mereka berjalan mengikuti perintah Allah, mengikuti Sunnah Rasulullah ﷺ dalam semua urusan, tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya; tidak mengatakan sesuatu, sehingga Allah mengatakannya. Mereka tidak memerintahkan, sehingga Allah memerintahkannya.
Yang kedua, Sabda Rasulullah ﷺ:
“Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (Shahih:HR Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718, Abu Dawud no. 4606 dan Ibnu Majah no. 14)

Dan masih banyak lagi dalil yang semakna dan senada dengan hal di atas.
Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan berkata, “Ibadah itu tauqifiyah, maknanya ia tidak disyari’atkan sedikit pun kecuali dengan dalil dari Al Qur’an dan Sunnah. Dan apa pun yang tidak disyari’atkan dianggap bid’ah yang tertolak, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: “Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami maka tertolak.” Maknanya, amalan tersebut ditolak dan tidak diterima bahkan ia berdosa karenanya, sebab amalan (yang tidak diperintahkan) tersebut termasuk kemaksiatan, bukan ketaatan” (Aqidatut Tauhid hlm. 54)
Jadi, jika kita ingin beribadah maka yang harus kita pahami adalah apakah ibadah tersebut memiliki landasan dalil atau tidak.
Amalan Terbaik, Bukan Hanya Terbanyak
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)
“Sesungguhnya kami menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka siapakah yang terbaik perbuatannya”. (QS. Al-Kahfi: 7)
Amalan yang mengantarkan kita kepada Allah adalah amalan yang yang paling baik, yang berlandaskan dengan keikhlasan dan juga sesuai dengan contoh Rasulullah ﷺ. Sebagaimana yang dikatakan Fudhail bin Iyadh, Fudhail bin ‘Iyadh, “Ahsanu ‘amala, adalah amalan yang paling ikhlas dan yang paling benar”.
Jadi penghambaan diri yang paling sempurna dengan 2 syarat, yaitu hendaklah ‘ubudiyah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh keikhlasan kepada-Nya dan sesuai dengan syari’at. (Untukmu yang Berjiwa Hanif, Armen Halim Naro)
Ingatlah sekali lagi, bahwa yang diperintahkan adalah amalan yang terbaik, tidak hanya terbanyak. Untuk apa selama ini beribadah secara bersungguh-sungguh namun ternyata tidak mendapatkan nilai apa-apa dari Allah melainkan mengundang murka-Nya?
“Dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisaa: 115)
Terakhir, kami sampaikan perkataan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang semoga mampu menjadi pendorong kita untuk hidup dalam naungan sunnah Nabi Muhammad ﷺ dan menjauhi apa yang tidak beliau contohkan,
“Sederhana dalam sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bid’ah.” (Atsar Shahih: HR. ad-Darimi (223), al-Lalika’i (1/55, 88) dan yang selainnya.)
Semoga Allah memperbaiki keadaan kita, ibadah kita, dan hati-hati kita semua.
Wa shalallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala aali hi wa shahbihi wa sallam, Akhiru da’wana anil hamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin
Sumber Penulisan:
Buku Putih Dakwah Salafiah. Zaenal Abidin bin Syamsudin. Jakarta: Pustaka Imam Abu Hanifah
Tarekat, Tasawuf, Tahlilan, dan Maulidan. Hartono Ahmad Jaiz. Solo: Wacana Ilmiah Press
Untukmu yang Berjiwa Hanif. Armen Halim Naro. Bogor: Pustaka Darul Ilmi
Berpegang Dengan Kebenaran. Dr. Walid Ar Rabi’. Dimuat dalam almanhaj.or.id
Kewajiban Ittiba’ Kepada Rasulullah ﷺ. Dimuat dalam abangdani.wordpress.com
Lebih Baik Sederhana Dalam Sunnah Daripada Bersungguh-sungguh Tapi Bid’ah. Karya Syaikh Zakariyya bin Ghulam Qodir al-Bakistani. Dimuat dalam ummushofi.wordpress.com

Mulia Sebagai Seorang Muslim

Posted: February 23, 2013 in Uncategorized

“Ketahuilah, kita adalah kaum yang paling hina, lalu Allah memuliakan dengan mendatangkan agama Islam. Karena itu jika kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, maka Dia akan menghinakan kita”
-Umar bin Khattab, Lihat dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah-

Umar bin Khaththab namanya. Ia adalah orang yang telah meruntuhkan Kerajaan Kisra Persia dan juga telah menghapus hegemoni Kaisar Romawi –dengan izin Allah-. Ia seorang penguasa Islam dengan kesahajaannya yang memukau. Ya, Ia yang dengan tenang tidur di bawah pohon kurma di Kota Madinah sementara penguasa lain tidur di atas kemewahan, ia yang memakai pakaian tenun sederhana sementara penguasa lain memakai pakaian bertahtakan permata.

Dan kini, Ia sedang berjalan menuju Syam dalam rangka penyerahan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin. Dalam perjalanan itu ia sempat melewati sebuah sungai. tidak disangka, ia langsung turun, mengalungkan sepatunya, dan menuntun sendiri untanya! Ketika penguasa lain yang telah merasa tinggi dengan kedudukannya merasa hina ketika turun langsung menuntun kendaraannya, Khulafaurrasyidin ini dengan ‘rendah hati’nya berjalan seorang diri, menyeberangi sungai sambil menuntun untanya.

Melihat hal itu, salah seorang sahabat berkata (riwayat lain menyebutkan bahwa sahabat itu ialah Abu Ubaidah bin Jarrah), “Wahai Amirul Mukmunin, para tentara dan pembesar negeri Syam akan menyambut Anda, tetapi Anda seperti itu keadaannya?”

Sahabat itu tidak berkata demikian tanpa alasan. Bayangkan saja, seorang Amirul Mukminin, yang sedang ditunggu kedatangannya, yang telah dinanti-nanti oleh para penyambutnya, yang telah dibayangkan bagaimana kemuliaannya, bagaimana kehormatannya, bagaimana harta dan kemewahannya oleh para penduduk Syam yang telah terbiasa mengukur kemuliaan lewat materi dunia. Jika orang-orang Syam itu melihat kondisi ini, duhai, bagaimana kiranya anggapan mereka?

Namun, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu menjawab keraguan sahabat itu,

“Sesungguhnya kami adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam. Karena itu kami tidak akan mencari kemuliaan selain dengan Islam.”

Atau dalam riwayat lain dari jalur Ibnu Syihab disebutkan,

“Ketahuilah, kita adalah kaum yang paling hina, lalu Allah memuliakan dengan mendatangkan agama Islam. Karena itu jika kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, maka Dia akan menghinakan kita.”
(HR. Hakim, lihat dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah Jilid I karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani)

Islam, Sebuah Jalan Kemuliaan

Ketika seseorang menilai kemuliaan dari harta saja, maka alangkah ruginya ia. Sebuah pelajaran dari sejarah kita menunjukkan, betapa celakanya para pencari kemuliaan lewat harta.

Qarun, si hartawan besar dari zaman Nabi Musa. Yang bahkan kunci gudang hartanya saja dipikul oleh beberapa orang (saking besarnya). Namun, apalah arti kemuliaan dari harta bila tanpa adanya iman dan Islam?

“Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan Tiadalah ia Termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)” (QS. Al Qashash: 81)

Ketika seseorang menilai kemuliaan dari tahta saja, duhai meruginya ia. Belumkah sampai kepadanya kisah Fir’aun, Sang Penikmat Dunia. Yang kerajaannya merupakan salah satu kerajaan termaju di masa lalu. Namun, apakah kemuliaan itu adalah kemuliaan yang mampu menyelamatkannya?

“Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya…” (QS. Al A’raaf: 137)

“Dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya” (QS. Al Baqarah: 50)

Dan ketika seorang mengukur kemuliaan dari nasabnya, maka sungguh salah ia. Tidakkah kita pernah membaca bagaimana mulianya nasab Abu Lahab dan bagaimana kedudukannya di dalam kaumnya? Namun sungguh, celakalah ia yang hanya mulia dari sisi nasabnya saja.

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan Sesungguhnya Dia akan binasa” (QS. Al Lahab: 1)

Alangkah indahnya perkataan Ibnu Rajab Al Hanbali rahimahullah yang dinukil dalam Jaami’ul Ulum wal Hikam,

“Tidaklah seseorang (bernilai) kecuali dengan agamanya. Maka janganlah engkau meninggalkan ketakwaan dan bersandar kepada nasab. Sungguh Islam telah mengangkat Salman Al-Farisi (yang bukan orang arab). Dan kesyirikan telah merendahkan orang yang bernasab tinggi si Abu Lahab”

Bagaimana Islam ini memuliakan suatu kaum yang terhina, mengangkat suatu kaum yang bodoh, menguatkan kaum yang lemah. Dalam Islam tidak dilihat bagaimana rupa seseorang, bagaimana harta seseorang, bagaimana posisi seorang dalam masyarakatnya. Tapi yang dilihat adalah bagaimana keIslamannya.

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa di antara kamu” (QS. Al Hujurat: 13)

Ikhwah fillah, tengok bagaimana seorang Bilal, seorang budak sebatang kara dari negeri Habasyah, yang diinjak-injak kehormatannya oleh majikannya, Umayyah bin Khalaf. Namun lihatlah, ketika majikannya yang termasuk dalam penghuni neraka, sandal Bilal telah melangkahinya hingga ke surga![1]

Ikhwah fillah, kita yang telah menjadi seorang muslim, sudah seharusnya bersyukur telah mendapatkan kemuliaan yang besar ini. Dan sudah saatnya bagi kita untuk berintrospeksi diri kita kembali, apakah kita telah menjadi seorang yang mulia dengan keIslaman kita? Apakah kita masih mencari kemuliaan lain selain menjadi seorang muslim yang kaffah? Yaa ikhwah, saatnya kita menunjukkan kemuliaan kita sebagai muslim, bukan dengan harta, bukan dengan tahta, tapi dengan ketaqwaan kita.

Wallahu musta’an.

“Berpeganglah kamu sekalian dengan sunnahku dan sunnah para khulafaurrasyidin setelahku. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia erat-erat dengan gigi gerahammu. Jauhilah perkara-perkara baru yang diada-adakan, karena setiap amalan yang diada-adakan itu bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”
-HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah-

Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarganya, para sahabatnya, serta pengikutnya yang istiqamah di atas sunnahnya.

Hadits yang disebutkan di atas merupakan hadits yang memiliki pesan makna yang sangat dalam. Ya, apalagi untuk kita, kaum muslimin di era modern ini. Ketika kita yang hidup di zaman yang ilmu merupakan barang langka di masyarakat kita, kita yang mengaku kaum muslimin ini rasanya gampang sekali terbawa arus fitnah dunia kala ini. Dan kini ketika kita menengok kembali wasiat dari pembimbing kita, Rasulullah ﷺ, di sana kita temukan wasiat untuk berpegang kepada sunnah dan menjauhi bid’ah. Namun yang menjadi masalah kita saat ini, apa itu sunnah yang harus kita pegang? Dan apa itu bid’ah yang harus kita jauhi? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, maka simaklah pembahasannya dalam artikel ini.

Definisi Sunnah

Secara bahasa, sunnah adalah metode (jalan) dan perilaku, yang baik maupun yang buruk. (Ibnu Manzhur, dalam Lisanul ‘Arab 13/225)

Sementara itu, para ulama juga telah mendefinisikan sunnah secara istilah.

Ibnu Rajab Al Hanbali berkata, “Sunnah adalah cara yang ditempuh Rasulullah ﷺ. Termasuk berpegang teguh kepada apa yang menjadi landasan beliau ﷺ dan para Khulafaurrasyidin, baik dalam keyakinan perbuatan, maupun perkataan. Inilah sunnah yang sempurna.” (Jaami’ul Ulum wal Hikam I/20)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “(Sunnah berarti) mengikuti jejak Rasulullah ﷺ secara lahir dan batin, mengikuti jalan para pendahulu yang utama dari kalangan Muhajirin dan Anshar.” (Majmuu’ Fataawa III/157)

Sehingga, bisa kita simpulkan bahwa sunnah adalah petunjuk yang menjadi pedoman Rasulullah ﷺ dan para sahabat beliau, baik dalam keilmuan, keyakinan, ucapan, maupun perbuatan. Itulah sunnah yang wajib diikuti, dipuji pelakunya, dan dicela orang yang menyelisihinya. (Syaikh Sa’id nin Ali bin Wahf Al Qahthani, Nuurussunnah wa Zhulumatul Bid’ah)

Wajibnya Mengikuti Sunnah Nabi dan Para Sahabatnya

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Apa saja yang disampaikan Rasul kepada kamu, terimalah. Dan apa saja yang dilarangnya bagi kamu, maka tinggalkanlah” (QS. Al Hasyr: 7)

“Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir, dan banyak mengingat Allah” (QS. Al Ahzab: 21)

“Katakanlah (wahai Muhammad), Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 54)

“Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah kesuksesan yang agung” (QS. At Taubah: 100)

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Barangsiapa yang menolak sunnahku maka dia bukanlah bagian dariku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali satu golongan.” Para sahabat bertanya, “Siapa golongan itu, wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Golongan yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada” (HR. Tirmidzi)

“Sungguh telah aku tinggalkan bagi kalian dua perkara . kalian tidak akan tersesat jika berpegang dengan keduanya. Yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Kalian tidak akan berpecah hingga nanti kalian sampai di telagaku” (HR. Hakim, Ad Daruquthni, dan Baihaqi)

Perkataan Para Ulama untuk Mengikuti Sunnah dan Tidak Bertaklid kepada Mereka

Imam Abu Hanifah berkata,

“Apabila saya mengemukakan suatu pendapat yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits Rasulullah ﷺ, maka tinggalkanlah perkataanku!” (Al Liqaazh hlm. 50)

“Apabila hadits itu shahih, maka itulah madzhabku” (Al Haasyiyah I/63)

“Tidak halal bagi seorang pun mengambil pendapat kami, selama ia tidak mengetahui dari mana kami mengambil pendapat tersebut” (I’lamul Muwaqqi’in II/309)

Imam Malik berkata,

“Saya ini hanya seorang manusia, bisa salah dan bisa benar, maka telitilah pendapatku. Setiap pendapatku yang sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah, maka ambillah pendapat tersebut. Dan setiap pendapatku yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah, maka tinggalkanlah pendapat itu!” (Ushuulul Ahkam VI/149)

Imam Asy Syafi’i berkata,

“Apabila kamu mendapatkan di dalam kitabku apa yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah ﷺ, maka berkatalah dengan Sunnah Rasulullah ﷺ dan tinggalkanlah apa yang aku katakan!” (I’lamul Muwaqqi’in 2/361)

“Kaum muslimin telah sepakat bahwa barang siapa yang telah terang banginya Sunnah Rasulullah ﷺ, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena untuk mengikuti perkataan seseorang” (I’lamul Muwaqqi’in 2/361)

Imam Ahmad bin Hanbal berkata,

“Jangan kalian bertaqlid kepadaku, dan jangan pula bertaqlid kepada Malik, Asy Syafi’i, Al Auza’i, dan Ats Tsauri. Tapi ambillah dari mana mereka mengambil” (I’lamul Muwaqqi’in 2/302)

“Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah ﷺ, maka ia berada pada jurang kehancuran” (Al Manaaqib, hlm. 182)

Ibnu Rajab Al Hanbali berkata,

“Wajib hukumnya bagi orang yang telah sampai kepadanya perintah Rasulullah ﷺ dan mengetahuinya, untuk menjelaskannya kepada ummat, menasihati mereka, dan menyeru mereka supaya mengikuti perintah beliau. Walaupun perintah tersebut menyelisihi pendapat tokoh pemuka dalam ummat. Sebab, perintah Rasulullah ﷺ lebih berhak untuk diutamakan dan diikuti daripada pendapat para tokoh mana pun” (Liqaazhul Himam, hlm. 93)

Keutamaan Mengikuti Sunnah

Mengikuti Sunnah Nabi Muhammad ﷺ sangatlah banyak keutamaannya. Diantaranya,

Yang pertama, selamat dari siksa api neraka.

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali satu golongan.” Para sahabat bertanya, “Siapa golongan itu, wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Golongan yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada” (HR. Tirmidzi)

Yang kedua, mencegah kesesatan.

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Sungguh telah aku tinggalkan bagi kalian dua perkara . kalian tidak akan tersesat jika berpegang dengan keduanya. Yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Kalian tidak akan berpecah hingga nanti kalian sampai di telagaku” (HR. Hakim, Ad Daruquthni, dan Baihaqi)

Yang ketiga, dimasukkan ke dalam surga Allah.

“Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. An Nisaa’: 13)

Yang keempat, menyelamatkan cobaan dan adzab Allah.

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An Nuur: 63)

Dan masih banyak lagi keutamaan lain yang bisa kita dapatkan ketika kita mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ. (Selengkapnya, silakan lihat risalah yang berjudul Fadhu Ittiba’is Sunnah, karya Syaikh Dr. Muhammad bin Umar Bazmul)

Pengertian Bid’ah

Setelah tadi kita mengenal apa itu sunnah, maka kini kita beralih pada pembahasan seputar bid’ah.
Secara bahasa, bid’ah berarti membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. (Lihat Al Mu’jam Al Wasith, 1/91)

Adapun secara istilah syar’i, maka para ulama memiliki definisi yang beragam. Diantaranya apa yang dituturkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,

“Bid’ah adalah i’tiqad (keyakinan) dan ibadah yang menyelishi Al Kitab dan As Sunnah atau ijma’ (kesepakatan) salaf.” (Majmu’ Al Fataawa, 18/346)

Selain itu, ada pula definisi yang datang dari Imam Syathibi.

“Bid’ah adalah ungkapan (untuk) jalan beragama yang baru, yang menyerupai syariat dan maksud dikerjakannya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah” (Al I’tisham, 1/23)

Dan secara ringkas, bid’ah yang dimaksud dalam hadits-hadits Nabi ﷺ mengenai bid’ah adalah sebagaimana yang dituturkan Imam Jauhari,

“Bidah adalah perkara baru dalam agama setelah (agama itu) sempurna” (Ilmu Ushulil Bida’, hlm. 24)

Seluruh Bid’ah Dalam Agama itu Sesat

Ketahuilah, bahwa seluruh bid’ah itu sesat. Namun ada saja orang-orang yang mengklaim bahwa ritual-ritual bid’ah dalam ibadah yang mereka lakukan itu mereka katakan sebagai perbuatan baik, sebagai sebuah kebaikan, atau yang sering disebut bid’ah hasanah. Padahal, telah jelas dalil dari Nabi Muhammad ﷺ,

“Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru (dalam agama), karena setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat” (HR. Ahmad, Hakim, Ibnu Majah, dll.)

Dan simaklah perkataan orang-orang yang jauh lebih paham agama setelah Rasulullah ﷺ.

Abdullah bin Umar berkata, “Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik” (Al Ibanah Al Kubra li Ibni Baththah, 1/219)

Abdullah bin Mas’ud ketika beliau melewati suatu masjid yang di dalamnya terdapat sekelompok orang yang membentuk majelis. Mereka bertakbir, bertahlil, bertasbih dengan cara yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Lalu Ibnu Mas’ud mengingkari mereka dengan mengatakan,

“Hitunglah dosa-dosa kalian. Aku adalah penjamin bahwa sedikit pun dari amalan kebaikan kalian tidak akan hilang. Celakalah kalian, wahai umat Muhammad! Begitu cepat kebinasaan kalian! Mereka sahabat nabi kalian masih ada. Pakaian beliau ﷺ juga belum rusak. Bejananya pun belum pecah. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah kalian berada dalam agama yang lebih baik dari agamanya Muhammad? Ataukah kalian ingin membuka pintu kesesatan (bid’ah)?”

Mereka menjawab, “Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.”

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid)

Bahaya Perbuatan Bid’ah

Sesungguhnya bahaya perbuatan bid’ah itu amatlah banyak kerusakannya. Dan banyaknya kerusakan dan bahaya yang muncul dari bid’ah, diantaranya adalah:

Yang pertama, amalannya tertolak

“Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim)

Sungguh merugi pelaku bid’ah. Sudah beramal banyak tapi ternyata ditolak.

“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi: 103-104)

Yang kedua, terhalangnya taubat dari pelaku bid’ah

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Sesungguhnya Allah menghalangi taubat dari setiap ahli bid’ah” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim, dikuatkan dari jalur Anas bin ‘Iyadl Al Laits Al Madani. Dishahihkan Al Albani dalam Ash Shahihah dan Shahih At Targhib wat Tarhib juz I hlm. 97)

Mengapa bisa demikian? Karena perbuatan bid’ah yang dianggap baik maka pelakunya akan sulit keluar dari bid’ah tersebut.

Sufyan Ats Tsauri berkata, “Bid’ah itu lebih disukai Iblis dibandingkan dengan maksiat biasa. Karena pelaku maksiat itu lebih mudah bertaubat. Sedangkan pelaku bid’ah itu sulit bertaubat” (Talbis Iblis, hlm. 22)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Oleh karena itu para imam seperti Sufyan Ats Tsauri dan lainnya menyatakan bahwa sesungguhnya bid’ah itu lebih dicintai iblis daripada maksiat karena pelaku bid’ah tidak diharapkan taubatnya sedangkan pelaku maksiat diharapkan taubatnya. Makna ucapan mereka bahwa pelaku bid’ah tidak diharapkan taubatnya karena seorang mubtadi’ yang menjadikan bid’ahnya sebagai Dien yang tidak disyariatkan Allah dan Rasul-Nya telah tergambar indah baginya amal jeleknya itu sehingga ia memandangnya baik. Maka ia tidak akan bertaubat selama dia memandangnya sebagai perkara yang baik. Karena awal taubat itu adalah pengetahuan bahwa perbuatannya itu jelek sehingga dia mau bertaubat. Atau perbuatannya meninggalkan kebaikan yang diperintahkan, baik perintah wajib maupun mustahab agar dia bertaubat darinya dengan melaksanakan perintah tersebut. Selama dia memandang perbuatannya itu baik padahal jelek, maka dia tidak akan bertaubat.” (Majmu’ Fatawa juz 10 hlm. 9)

Yang ketiga, terhalang dari telaga dan syafa’atnya Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui bid’ah yang mereka buat sesudahmu.’ ” (HR. Bukhari no. 7049)

Dalam riwayat lain,

“(Wahai Rabbku), mereka betul-betul pengikutku. Lalu Allah berfirman, ‘Sebenarnya engkau tidak mengetahui bahwa mereka telah mengganti ajaranmu setelahmu.” Kemudian aku (Rasulullah ﷺ) mengatakan, “Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku.” (HR. Bukhari no. 7051)

Yang keempat, menanggung dosa orang yang mengerjakan bid’ah.

Sungguh buruk orang yang mengajarkan dan mengarahkan manusia ini kepada bid’ah. Rasulullah ﷺ bersabda,

“Barangsiapa melakukan suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun.” (HR. Muslim no. 1017)

Yang kelima, mendapatkan laknat.

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Barangsiapa yang membuat bid’ah atau menolong ahli bid’ah, maka baginya laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya” (HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 1371)

Penutup

Suatu hari ketika Rasulullah ﷺ bersama para sahabatnya, beliau menggambar garis lurus di atas tanah dan menggariskan garis-garis lain di kanan dan kirinya. Kemudian beliau ﷺ menunjuk garis lurus tersebut seraya berkata, “Ini adalah jalan Allah”. Dan beliau menunjuk garis-garis yang bercabang di kanan dan di kirinya dengan mengatakan: ”Ini adalah jalan-jalan sesat, di setiap ujung jalan-jalan ini terdapat setan yang menyeru kepadanya”. Kemudian beliau membaca ayat,

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al An’am: 153)

(HR. Ibnu Abi ‘Ashim)

Demikian yang mampu kami sampaikan, semoga bermanfaat bagi kita semua.
Wa shalallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala aali hi wa shahbihi wa sallam, Akhiru da’wana anil hamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin.

“Siapa yang memakai pakaian untuk ketenaran di dunia maka Allah akan memakaikannya pakaian kehinaan pada hari kiamat kemudian dinyalakan api padanya”
-HR. Abu Daud dan Ibnu Majah-

Beberapa saat yang lalu di saat libur tahun baru 1434 H, penulis menyempatkan dirinya untuk pulang kampung ke Bogor. Banyak hal yang dilalui penulis selama libur tersebut, diantaranya jalan-jalan ke salah satu pusat perbelanjaan yang terkenal di Bogor, Botani Square. Lama tidak bertemu mall selama kuliah di Surabaya, penulis merasakan kejut budaya (rasanya). Penulis melihat begitu banyak wanita berjilbab dengan berbagai hiasan-hiasan besar di atasnya. Entah itu sekedar manik-manik saja, hingga hiasan bunga yang bahkan ukurannya lebih besar daripada kepala wanita itu sendiri. Yah, itulah yang kini sering disebut hijaber. Penulis tidak tahu, apakah hijaber adalah istilah baru atau lama. Tapi yang jelas penulis merasa heran dengan adanya fenomena hijaber tersebut (disamping istilah jilbab gaul yang sudah lama terdengar gaungnya)

Semestinya memang harus disyukuri, ketika muslimah sudah memutuskan untuk mengenakan hijab sebagai sebuah bentuk pengamalan dari syariat yang mulia ini. Tetapi ketika syariat yang diturunkan dari langit itu bertubrukan dengan mode yang berkembang di kolong langit ini, maka masihkan pengamalan itu disebut murni?

Bukan masalah, ketika ada wanita yang menggunakan hijab setiap harinya, demi menjaga kehormatannya. Tetapi ketika hijab tidak lagi sebagai penjaga kehormatan tapi sudah menjadi penarik perhatian, masihkan hijab itu disebut layak pakai?

Heran, ketika jilbab dihias sedemikian rupa, dirupa-rupakan dengan sedemikian cantiknya. Maka untuk siapa sesungguhnya jilbab itu? Seandainya pengandaian, bahwa seorang wanita berhijab untuk mengejar cinta Rabbnya, maka wanita hijaber, cinta siapa yang engkau kejar?

Al ‘Ilmu Qabla Al Qaul wal ‘Amal

Seharusnya jika memang wanita-wanita hijaber itu ingin berjilbab, maka seharusnya sebelumnya mengetahui ilmunya, sesuai kaidah Al ‘Ilmu Qabla Al Qaul wal ‘Amal (Ilmu sebelum berkata dan beramal)

Bagaimana sebenarnya jilbab yang syar’i?

Yang pertama, menutupi seluruh badan.

”Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin agar hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

Yang kedua, tidak diberi hiasan-hiasan hingga mengundang pria untuk melihatnya.

“Katakanlah (wahai Nabi) kepada wanita-wanita yang beriman: hendaklah mereka menundukkan pandangan mata dan menjaga kemaluan mereka, dan jangan menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang biasa nampak darinya. Hendaklah mereka meletakkan dan menjulurkan kerudung di atas kerah baju mereka (dada-dada mereka)” (QS. An Nur: 31)

Yang ketiga, tebal dan tidak tipis.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Akan ada nanti di kalangan akhir umatku para wanita yang berpakaian tapi hakikatnya mereka telanjang…”

Kemudian Beliau ﷺ bersabda:

“…Laknatlah mereka karena sesungguhnya mereka itu terlaknat.” (HR. Ath Thabrani dalam Al Mu’jam Ash Shaghir dengan sanad shahih. Lihat Jilbab Al Mar`ah Al Muslimah, hlm. 125)

Ibnu Abdil Barr berkata, “Yang dimaksud Nabi ﷺ dalam sabdanya (di atas) adalah para wanita yang mengenakan pakaian dari bahan yang tipis yang menerawangkan bentuk badan dan tidak menutupinya maka wanita seperti ini istilahnya saja mereka berpakaian tapi hakikatnya mereka telanjang.”

Yang keempat, lebar dan tidak sempit.

Usamah bin Zaid berkata, “Rasulullah ﷺ memakaikan aku pakaian Qibthiyah yang tebal yang dihadiahkan oleh Dihyah Al Kalbi kepada beliau maka aku memakaikan pakaian itu kepada istriku. Suatu ketika Beliau ﷺ bertanya: ‘Mengapa engkau tidak memakai pakaian Qibthiyah itu?’ Aku menjawab: ‘Aku berikan kepada istriku.’ Beliau berkata: ‘Perintahkan istrimu agar ia memakai kain penutup setelah memakai pakaian tersebut karena aku khawatir pakaian itu akan menggambarkan bentuk tubuhnya.” (HR. Adh Dhiya` Al Maqdisi, Ahmad, dan Baihaqi)

Yang kelima, tidak diberi wangi-wangian.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Wanita mana saja yang memakai wangi-wangian lalu ia melewati sekelompok orang agar mereka mencium wanginya maka wanita itu pezina.” (HR. An Nasai, Abu Dawud dan lainnya)

Yang keenam, tidak menyerupai pakaian laki-laki.

Abu Hurairah mengatakan, “Rasulullah ﷺ melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan lainnya)

Yang ketujuh, tidak menyerupai pakaian wanita kafir.

Karena Rasulullah ﷺ dalam banyak sabdanya memerintahkan kita untuk menyelisihi orang-orang kafir dan tidak menyerupai mereka baik dalam hal ibadah, hari raya/perayaan ataupun pakaian khas mereka.

Yang kedelapan, bukan merupakan pakaian untuk ketenaran, yakni pakaian yang dikenakan dengan tujuan agar terkenal di kalangan manusia, sama saja baik pakaian itu mahal/mewah dengan maksud untuk menyombongkan diri di dunia atau pakaian yang jelek yang dikenakan dengan maksud untuk menampakkan kezuhudan dan riya‘.

Ibnul Atsir berkata, “Pakaian yang dikenakan itu masyhur di kalangan manusia karena warnanya berbeda dengan warna-warna pakaian mereka, hingga manusia mengangkat pandangan ke arahnya. Jadilah orang tadi merasa bangga diri dan sombong. Rasulullah ﷺ bersabda,

“Siapa yang memakai pakaian syuhrah di dunia maka Allah akan memakaikannya pakaian kehinaan pada hari kiamat kemudian dinyalakan api padanya.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah)

Ibnu Atsir berkata mengenai pakaian syuhrah, “Syuhrah adalah sesuatu yang menonjol. Yang dimaksud dengan pakaian syuhrah adalah pakaian yang menyebabkan pemakai menjadi mencolok di tengah-tengah masyarakat disebabkan warna pakaiannya menyelisihi warna pakaian yang umum dipakai masyarakat. Akhirnya banyak orang menatap tajam orang yang memakai pakaian tersebut dan pemakainya sendiri lalu merasa dan bersikap sombong terhadap orang lain” (Dikutip Asy Syaukani dalam Nailul Authar juz 2 hal 470)

Syaikh Al Albani berkata, “Pakaian syuhrah adalah setiap pakaian yang diniatkan agar terkenal pada manusia. Baik pakaian itu mahal/berharga, yang pemakainya mengenakannya untuk membanggakan dengan dunia dan perhiasannya, atau pakaian buruk/rendah yang pemakainya mengenakannya untuk menampakkan zuhud (menjauhi dunia) dan riya” (Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, hlm. 213)

Demikianlah penjelasan yang kami nukil dari kitab Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, sebagaimana ditulis dalam situs Asy Syariah Online.

Haruskah Jilbab Berwarna Hitam?

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata,

“Ketika turun firman Allah, “Hendaknya mereka (wanita-wanita beriman) mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka” (QS. Al Ahzab:59) wanita-wanita Anshar keluar seolah-olah pada kepala mereka terdapat burung-burung gagak karena warna (warna hitam-red) kain-kain (mereka).” (HR. Abu Daud. Dishahihkan oleh Syaikh al Albani)

Hadits ini menunjukkan bahwa wanita-wanita anshar tersebut mengenakan jilbab-jilbab berwarna hitam. Namun secara khusus, tidak ada warna jilbab tertentu yang wajib digunakan, tapi jilbab tersebut haruslah pakaian yang tidak menarik perhatian dan tidak menyebabkan fitnah. Jilbab haruslah pakaian yang secara adat kebiasaan tidak menarik perhatian dan menyebabkan fitnah bagi yang melihat para wanita itu. Karena Allah jalla wa `alaa berfirman,

“Dan tetaplah kalian (para wanita) di rumah-rumah kalian, dan janganlah kalian ber-tabarruj (berhias) sebagaimana ber-tabarrujnya para wanita jahiliah dahulu” (QS. Al-Ahzab: 33)

Para ulama berkata berkata bahwa tabarruj adalah menampakkan kecantikan dan perhiasan wanita. Maka pakaian yang merupakan adat kebiasaan yang berwarna hitam atau tidak, merah, biru, ataupun hijau jika itu adalah pakaian yang sudah biasa dan tidak ada perhiasan dan kecantikan yang menarik perhatian, maka inilah yang seharusnya. (Lihat selengkapnya fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz di http://www.ibnbaz.org.sa/mat/18614)

Demikianlah pembahasan yang dapat kami sampaikan dalam artikel ini, semoga bermanfaat.

Wallahu a’lam.

Pemuda yang Haus Cinta

Posted: February 23, 2013 in Uncategorized

Demi Allah! Sungguh, mencintainya (dunia) benar-benar termasuk dosa yang terbesar. Dan tidaklah dosa-dosa menjadi bercabang-cabang melainkan karena cinta dunia. Bukankah sebab disembahnya patung-patung serta dimaksiatinya Ar-Rahman tak lain karena cinta dunia dan lebih mengutamakannya?
-Hasan Al Bashri, Mawa’izh Al Imam Al Hasan Al Bashri, hlm. 138-

Catatan pertama di tahun 2013.

Alhamdulillah, wasshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Mungkin sudah terlalu terlambat untuk membuat “catatan awal tahun” mengingat ketika artikel ini ditulis, kalender masehi menunjukkan bulan kedua, bulan Februari. Dan di bulan Februari ini, ada satu tanggal yang biasanya dijadikan hari raya bagi para pemuja hawa nafsu, terutama di kalangan remaja: Hari Valentine.

Hari yang diklaim oleh banyak pihak sebagai hari cinta dan kasih sayang. Berbagai tema kehidupan langsung berubah di tanggal ini. Bagi pusat-pusat perbelanjaan, maka akan langsung mengubah dekorasi gedungnya dengan warna-warni yang cerah. Berbagai kemasan produk pun disesuaikan dengan tema Hari Valentine ini. Tidak ketinggalan, acara-acara di televisi pun mengubah formatnya dengan tambahan “-Spesial Valentine”

Di sini kami tidak ingin membahas panjang lebar mengenai apa itu hari valentine, bagaimana hukum syar’i-nya, namun kami hanya ingin memaparkan sebuah kisah, yang semoga bisa menjadi pengobat bagi mereka yang kecanduan cinta akan hawa nafsu mereka. Saya bukanlah ustadz, guru, apalagi ulama. Pengetahuan kami akan ilmu Al Qur’an dan Al Hadits masih sangat minim. Yang kami akan sampaikan adalah yang sebuah kisah yang kami kutip dari situs PemudaMuslim.com.

Suatu hari, ada seorang pemuda yang mendatangi Rasulullah ﷺ, pemuda itu kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, izinkanlah aku berzina!”

Mendengar perkataan yang sedemikian lancang itu kepada Nabi ﷺ, maka para sahabat pun memperingatkan si pemuda, “Diam kamu! Jangan bicara seperti itu!”

Rasulullah ﷺ yang mendengar hal itu bukannya membentak, tetapi justru menyusuh si pemuda itu mendekat kepadanya. Setelah si pemuda duduk di dekat Rasulullah ﷺ, beliau bertanya,

“Apakah engkau suka kalau ibumu berzina?”

Pemuda itu menjawab, “Demi Allah tidak! Semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu”

Nabi ﷺ pun menjawab, “Demikian juga orang lain. Mereka tidak mau kalau ibu mereka berzina”

Kemudian Nabi bertanya lagi : “Apakah engkau suka kalau putrimu berzina?”

Dia menjawab, “Demi Allah tidak ya Rasulullah! Semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu”

Nabi ﷺ, “Demikian juga orang lain. Mereka tidak mau kalau anak perempuan mereka berzina”

Kemudian Nabi ﷺ bertanya lagi, “Apakah engkau suka kalau saudari perempuanmu berzina?”

Dia menjawab, “Demi Allah tidak! Semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu”

Nabi ﷺ pun menjawab, “Demikian juga orang lain. Mereka tidak mau kalau saudari perempuan mereka berzina”

Kemudian Nabi ﷺ bertanya lagi, “Apakah engkau suka kalau saudara perempuan ayahmu berzina?”

Dia menjawab, “Demi Allah tidak! Semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu”

Nabi ﷺ pun menjawab, “Demikian juga orang lain. Mereka tidak mau kalau saudara perempuan ayah mereka berzina”

Kemudian Nabi ﷺ bertanya lagi, “Apakah engkau suka kalau saudara perempuan ibumu berzina?”

Dia menjawab, “Demi Allah tidak! Semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu”

Nabi ﷺ pun menjawab, “Demikian juga orang lain. Mereka tidak mau kalau saudara perempuan ibu mereka berzina”

Kemudian Nabi Muhammad ﷺ meletakkan tangan beliau kepada si pemuda itu seraya mendoakannya, “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya”

Setelah itupun si pemuda sama sekali tidak punya keinginan lagi untuk berzina. (HR. Ahmad dalam Musnad-nya dengan sanad shahih)

Inilah kisah Nabi Muhammad ﷺ yang menunjukkan kepada kita, bagaimana itu sebenarnya hikmah dalam berdakwah. Di dalam kisah ini ketika si pemuda menyampaikan keinginannya yang kebelet zina kepada Rasulullah ﷺ, beliau tidak memarahinya, mengusirnya, atau bahkan melaknatnya karena keinginannya tersebut (padahal zina adalah termasuk dosa besar), namun justru Rasulullah ﷺ mengajari si pemuda itu untuk menjauhi zina. Rasulullah ﷺ tidak menggunakan dalil-dalil dari Al Qur’an untuk mendakwahi si pemuda, karena beliau tahu kapasitas si pemuda tersebut. Beliau hanya cukup memberi pengertian yang tepat akan nistanya zina itu sendiri.

Begitu pun di zaman ini. Ketika kawula muda sedang larut-larutnya dalam euforia cinta mereka, sehingga tanpa sadar mereka melanggar batas-batas agama ini, maka sudah seharusnya kita mengajak mereka untuk kembali ke jalan kemuliaan Islam. Mungkin telinga mereka panas mendengar dalil-dalil dari Qur’an dan Hadits, karena itu kami ingin mengingatkannya dengan menggunakan cara ini, cara yang telah ditempuh oleh Rasulullah ﷺ lebih dari satu milenium yang lalu.

Bagaimana perasaan kita, wahai ikhwah, jika melihat ibu, saudara perempuan, atau bahkan putri kalian digoda dan dirayu oleh lelaki nista? Tidakkah hati kita sakit? Dan sekarang, wahai ikhwah, tidakkah kita malu, tidakkah kita sedih, melihat wanita-wanita kaum muslimin direndahkan dan dibuang harga dirinya dengan budaya nista bertopeng kasih sayang dan cinta?

Jika memang benar-benar cinta, maka kenapa tidak dinikahi saja? Apakah alasan belum mampu menikah menjadi dalil pembenaran? Yang namanya perwujudan cinta itu butuh namanya kemampuan, dan kalau hanya berani lewat pacaran, atau valentine-an, atau apa pun namanya tetapi tak berani untuk memikul tanggung jawab, maka itu bukanlah perwujudan cinta, tetapi hanya permainan belaka.

Karena itu wahai ikhwah, ingatlah betapa besarnya mudharat dari yang ditimbulkan dari cinta yang nista, cinta yang berlandaskan hawa nafsu belaka.

Wallahu musta’an.

15 Februari 2013 Diposkan oleh Jundullah Abdurrahman Askarillah di 18.59

“Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, Dia mencintai kelembutan dalam segala urusan”
-HR. Bukhari-

Sejenak, mari kita kembali ke zaman dahulu kala, kembali pada lembaran sejarah dunia yang dinodai oleh kekafiran seorang Fir’aun. Ya, diktator nomor 1 sepanjang sejarah manusia ini merupakan penguasa sebuah peradaban yang paling maju di dunia saat itu. Harta, tahta, dan dunia seakan keseluruhan adalah miliknya. Tapi memang dasar Fir’aun, ia yang tidak akan pernah merasa puas, Ia yang tak merasa cukup menjadi manusia saja, ia ingin menjadi lebih daripada itu, ia memiliki obsesi untuk melampaui batas-batas kemanusiaan. Ya, ia ingin menjadi TUHAN.

“Kemudian (Fir’aun) berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi”” (QS. An Naazi’at: 24)

Dan dengan segala kekuasaan yang ia miliki, ia daulat dirinya sendiri sebagai Rabb semesta alam. Tangan besi Fir’aun yang telah merampas kehormatan ribuan atau mungkin jutaan manusia telah memaksa mereka untuk tunduk patuh secara mutlak kepada titahnya. Entah berapa lama Fir’aun telah merasakan “sensasi” menjadi Tuhan hingga akhirnya Allah utus ke tengah-tengah negeri Fir’aun itu Nabi yang mulia, Musa dan saudaranya Harun ‘alaihimussalam.

Dan sekarang, perhatikanlah bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk menghadap Fir’aun demi mematahkan keangkuhan dan kekafirannya dan menggiring manusia kepada kebenaran,

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut” (QS. Thaahaa: 43-44)

Lihatlah bagaimana Allah ‘azza wa jalla memerintahkan nabi-Nya untuk berdakwah kepada seorang Fir’aun. Bayangkan, seorang Hitler yang hanya membuat Eropa berkecamuk dalam perang besar dan memakan korban jutaan jiwa sudah digambarkan sebagai orang yang paling bengis di dunia, seorang Stalin yang hanya bertanggung jawab atas kematian massal jutaan rakyatnya sudah dikategorikan sebagai diktator kejam berdarah dingin. Bagaimana dengan Fir’aun, yang merupakan penguasa terbesar di zamannya, yang telah memaksa manusia sujud kepadanya, yang tega membunuh bayi yang baru keluar dari perut ibunya? Masya Allah…super banget deh!

Tetapi lihat, apakah Allah kemudian menyuruh Nabi Musa dan Harun untuk langsung melaknatnya? Tidak. Allah menyuruh mereka untuk berdakwah, untuk menyampaikan kebenaran di hadapan Fir’aun.

Dan bagaimana mereka harus menyampaikan kebenaran itu? Apakah dengan pemberontakkan? Apakah dengan sumpah serapah? Apakah dengan cacian dan makian? Sungguh, tidaklah mereka diperintahkan berdakwah kecuali dengan cara yang lemah lembut.

Refleksi Diri: Bersikap Lemah Lembutlah dalam Berdakwah

Sungguh bagus apa yang telah dikatakan oleh Khalifah yang masyhur, Harun Al Rasyid rahimahullah, untuk menggambarkan bagaimana seharusnya kita bisa menimbang siapa diri kita dan siapa orang lain itu sebenarnya.

Suatu hari ada seseorang yang menemui Khalifah Harun Al Rasyid kemudian berkata, “Wahai Harun, aku akan berbicara kepadamu dengan keras, dan aku ingin menasihatimu!” Kemudian Harun Al Rasyid menjawab,

“Wahai Fulan, aku tidak mau mendengar perkataanmu itu. Sebab aku tidaklah lebih jahat dari Fir’aun dan engkau pun tidak lebih baik dari Musa ‘alaihissalam. Padahal Allah ta’ala telah memerintahkan Musa untuk berkata pada Fir’aun dengan perkataan yang lembut”[1]

Inilah yang seharusnya dipikirkan oleh orang-orang yang berdakwah tetapi sering melampaui batas. Mereka berdakwah kepada saudara-saudara mereka yang sesama muslim seakan-akan yang didakwahi itu jauh lebih buruk daripada orang kafir. Inikah yang disebut dakwah Islamiyah? Yang justru pena dan lidahnya jauh lebih tajam untuk saudara-saudara mereka sesama kaum muslimin? Padahal si pendakwah tadi belum tentu ia lebih baik dari yang didakwahkan, padahal si pendakwah tadi bukanlah yang dijamin selamat dari kesalahan. Subhanallah.

Sifat Lemah Lembut Kunci Keberhasilan Dakwah

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (QS. Ali Imran: 159)

Sebagai orang Indonesia, mari kita lihat sejarah bangsa kita sendiri. Islam masuk ke Indonesia tidak dengan perantara pedang, tidak datang dengan para penjajah (sebagaimana agama Kristen yang masuk bersama para penjajah), tetapi datang dengan membawa kedamaian dan keadilan. Dan sekarang kita lihat di zaman kita. Ketika Indonesia menjadi negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, tapi justru memiliki segudang aliran sesat. Mulai dari Ahmadiyah, para nabi palsu asli Indonesia, hingga agama Syi’ah.

Sekarang pertanyaannya, mengapa Islam begitu mudah masuk ke Indonesia? Salah satu alasan paling penting adalah karena kelemahlembutan dan akhlak para pendakwahnya. Dan satu pertanyaan lagi, mengapa justru aliran yang menyimpang yang malah laris di negeri ini? Karena aliran-aliran dan ajaran agama menyimpang itu menggunakan cara yang lemah lembut dan akhlak yang baik.

Wahai saudaraku, tidakkah kita seharusnya malu? Ajaran yang bersesuaian dengan Al Qur’an dan Sunnah ini, ajaran agama yang lurus ini, justru kalah bersaing dengan ajaran sempalan karena mereka melakukannya dengan akhlak dan cara yang lemah lembut. Bukankah kita yang seharusnya memiliki kelemahlembutan tersebut? Bukankah kita yang mengaku mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ sudah seharusnya memiliki sifat lemah lembut ini?

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesama mereka” (QS. Al Fath: 29)

Contoh Terbaik

Telah datang kepada kita begitu banyak kisah-kisah dakwah para Nabi yang menggambarkan bagaimana lembutnya dakwah mereka. Dan salah satunya, mari kita simak kisah Nabi kita yang mulia, Rasulullah ﷺ,

Suatu suatu hari para sahabat sedang di masjid bersama Rasulullah ﷺ. Lalu datanglah seorang Arab badui yang kemudian berdiri untuk buang air kecil di masjid. Para sahabat menghardiknya namun Rasulullah ﷺ bersabda, “Janganlah kalian memutusnya, biarkanlah ia selesai kencing dulu”. Maka mereka membiarkan orang itu selesai kencing. Setelah selesai, orang itu dipanggil oleh Rasulullah ﷺ dan beliau bersabda, “Sesungguhnya masjid-masjid ini tidak selayaknya di dalamnya ada sesuatu dari gangguan dan kotoran, sesungguhnya masjid itu hanyalah untuk sholat dan membaca Al Qur’an”. Setelah itu Rasulullah ﷺ memerintahkan seseorang untuk mengambil seember air dan menyiram bekas kencing Arab badui tadi (HR. Bukhari no. 219)

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran. Diantaranya keharusan bersikap lemah lembut terhadap orang jahil dan mengajarinya apa yang menjadi kewajibannya tanpa bentakan jika orang itu tidak keras kepala (tidak membangkang), apalagi terhadap orang yang kita ingin jinakkan hatinya. Hadits ini menunjukkan kelemahlembutan Rasulullah ﷺ dan baiknya akhlak beliau.[2]

Sumber Penulisan:

Faidah dari kajian di Masjid Al Istiqamah Taman Yasmin Bogor, 26 Januari 2013, oleh Ustadz Syariful Mahya Lubis, Lc. hafizhahullah.

14 Contoh Hikmah dalam Berdakwah, disusun oleh Ustadz Abu Abdurrahman Abdullah Zaen, Lc. Penerbit: Pustaka Muslim. Yogyakarta.